Berawal dari ungkapan yang saya
dengan dari banyak orang yang menyatakan bahwa langit Jakarta yang tidak pernah
biru, kulangkahkan kaki mengelilingi ibu kota. Perjalanan yang kumulai dengan
harapan dapat menikmati keindahan setiap inci ibu kota ini, segala pandangan
yang tidak akan pernah kudapatkan ketika aku mengelilinginya menggunakan
kendaraan bermotor roda dua apalagi roda empat.
Kusiapkan diri menjalani kota ini
dengan menggunakan sendal ala anak gunung (walau tak cocok di kota, tapi tak
apalah) dengan celana jins biru yang sudah mulai lusuh dan baju polo warna
merah lengkap dengan tas sandang yang biasa kugunakan berisi Dompet, HP,
headphone dan beberapa barang lainnya yang mungkin akan kugunakan saat jalan
nanti.
Setelah berjalan hingga kira-kira
satu kilometer mulai kupahami mengapa biru langit ini selalu tertutup seolah
malu menunjukkan dirinya, mengapa langit biru yang selama ini kunikmati di kampung
halamanku tidak terlihat di kota ini. Jalan yang begitu besar selalu dipenuhi
oleh kendaraan bermotor yang ntah dari mana datangnya, ribuan kendaraan yang
selalu melintasi jalan ini mengeluarkan polusi yang menutupi birunya langit terlihat
seperti tanpa henti memuntahkan asap polusi ke langit di atas Jakarta.
Mengapa seperti ini, kenapa begitu
banyak kendaraan yang ada, siapa yang harus disalahkan, masyarakat yang tidak
mau menggunakan kendaraan umum kah? Saya rasa tidak, jika kita melihat angkutan
umum sangatlah penuh, sangat berdesakan hingga terkadang malah menggambarkan
kejamnya kehidupan, sehingga membuat semua orang berpikir jika saya punya
kendaraan yang lebih nyaman, biarpun itu artinya macet maka saya mungkin akan
memilih menggunakan itu. Serta jika kulihat sekelilingku bahkan trotoar tempatku
berdiri saat itu tidak nyaman untuk pejalan kaki, kalau seperti ini bagaimana
kotaku ini akan mengkampanyekan pengurangan kendaraan kalau fasilitasnya aja
seperti ini.
Atau mungkin kita harus menyalahkan
pemerintah karena tidak menyediakan fasilitas, mungkin ia, mungkin juga tidak
(takut dikira kampanye) melihat sekeliling kota Jakarta yang saat ini dipenuhi
oleh bangunan infrastruktur saat ini pemerintah sudah berusaha untuk
memfasilitasi infrastruktur seperti baru-baru ini telah dibukanya MRT untuk
beberapa tujuan dan disambut baik oleh seluruh masyarakat Jakarta, namun
sepertinya itu belum cukup, pemerintah harus tetap bekerja keras untuk
membangun dan terus membangun, kita sebagai masyarakat harus mendukungnya. Namun
sebagai masyarakat biasa kembali ku bertanya, Apakah memang infrastruktur kita
sudah benar-benar terlambat
pembangunannya? Dan kenapa? (Biarlah waktu yang mwnjawabnya). kalau memang
seperti itu, kami rakyat pinggiran ini berharap pembangunan ini segera selasai,
dan semoga ini dapat mengubah langit ibu kotaku kembali Biru lagi. Siapapun
presidennya kita harus mendukungnya (salam damai 3 Jari).
Berjalan mengitari kota tidak hanya
memperhatikan polusi udara ini saja, namun semakin kita memperhatikan kota ini,
semakin kita berfikir, mungkin ada yang salah dengan orang-orang yang tinggal
dikotaku ini, dan termasuk saya salah satunya. Hidup nyaman dengan begitu
banyak sampah bertebaran dimana-mana, ntah dari mana datangnya tidak ada yang
peduli, seolah berpikir bahwa setiap sampah itu berjalan sendiri dari tempat
sampah tanpa sadar bahwa kita sendirilah yang meletakanyan disana, sungguh
keanehan yang luar biasa.
Masalah sampah menjadi tren saat
ini, dimana-mana banyak yayasan maupun kelompok yang menyuarakan gerakan
selamatkan Bumi dari sampah sebagai warisan untuk anak cucu kita nanti,
walaupun terkadang sebagian kecil dari kelompok tersebut terlihat seperti hanya
memerlukan eksistensi sehingga terlihat peduli tetapi tanpa ada aksi (maaf
hanya praduga tanpa bukti). Namun yang paling menarik perhatian saya adalah
bagaimana ibu mentri panutan saya ibu susi pudjiastuti ikut mensosialisasikan
gerakan selamatkan lingkungan dari sampah, walaupun sedikit terbenak dalam
pikiran saya mungkin beliau kesal. Gimana tidak, mungkin pada saat beliau snorkeling atau melaksanakan hobby beliau lainnya dilautan dengan
niat mau melihat ikan atau bersenang-senang, eh… malah lihat sampah
dimana-mana, tapi saya yakin niat beliau murni ingin menyelamatkan lingkungan
ini sebagai warisan kepada anak cucu kelak.
Dan memang apa salahnya menjaga
lingkungan ini tetap bersih, bukankah ini rumah kita, bukankah ini tempat
tinggal kita, kenapa kita tidak menjaganya, jikalau menjaga sekeliling kita
saja kita tidak bisa bagaimana kita bisa mengaku diri kita ini bersih, bukankah
hal yang bisa dilihat oleh manusia adalah sekitar kita, jika sekitar kita kotor
maka orang akan berpikiran kalau kita juga orang kotor, kita masyarakat
Indonesia, kalau lingkungan kita penuh dengan sampah mungkin masyarakat negara
lain akan berfikir kita ini negara sampah (MUNGKIN! lagi-lagi pendapat tanpa
bukti, maafkan saya).
Dipenuhi oleh rasa kecewa dengan
melihat polusi di kotaku ini begitu banyak mulai dari udara, tanah, dan airnya
penuh dengan polusi. Namun terdapat secercah kegembiraan yang kutemui dalam
perjalanan ini, dimana ternyata masyarakat kota ini belum terdampak polusi
(setidaknya masih ada satu atau dua orang yang belum). Berjalan sejauh beberapa
kilometer seorang dengan rambut gimbal dengan motor yang sudah tergolong butut
namun terawat menghampiri saya, dengan senyum menawarkan tumpangan gratis
kepada saya, dengan hati senang menemukan sesuatu hal baik di kotaku ini, kota
dimana banyak orang mengatakan bahwa sekarang setiap orang sudah tidak peduli
dengan sesama, ternyata itu hanya omongan tanpa bukti, saat ini ku temukan
kepesulian tulus dari orang lain, namun karena memang sudah niat dari awal
jalan kaki dengan senyum paling tulus yang bisa saya berikan saya menolak tawaran
tersebut.
Setelah berulang menawarkan tumpangan
dan saya menolaknya, orang baik tersebut pergi meninggalkan saya. Terimkasih
kawan sudah mengihibur saya ditenganh masalah yang kutemukan hari ini.
Kulanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menemukan keindahan lainnya di
setiap sudut kota ini. Setelah lelah berjalan ku kembali kerumah dengan
menggunakan transjakarta dengan begitu banyak pertanyaan, kesenangan dan kebingungan
dibenakku. Semua itu kurenungkan sambal duduk di dalam transjakarta yang melaju
menuju halte dekat rumah, terkadang senyum sendiri mengingat apa yang kulalui,
mungkin ini kebodohan berjalan tanpa tujuan, atau pembelajaran melihat sudut
kota dari sudut pandang yang berbeda.